Belakangan ini banyak masyarakat mengeluh, menghujat, mengumpat bahkan meratapi nasibnya, sepertinya mereka merasa selalu dirundung kemalangan yang tidak pernah ada ujungnya. Keramahan, senyuman, wajah-wajah ceria, kata-kata santun sepertinya sudah menjadi barang langka dalam kehidupan kita sehari-hari. Sepuluh tahun belakangan ini Indonesia di dera berbagai macam persoalan. Berita korupsi masih merajai di layar media, sepertinya perjuangan reformasi sepuluh tahun lalu tentang berantas KKN malah menjadi wabah penyakit yang semakin tumbuh subur. Bencana alam dimana-mana tidak membuat pemangku kebijakan dan seluruh komponen bangsa sadar bahwa Tuhan sedang mengingatkan. Langka dan mahalnya harga sembilan bahan pokok yang menjadi kebutuhan hidup masyarakat menyebabkan masyarakat semakin merana dan tidak punya harapan untuk menatap masa depan. Kalau kita mengingat itu semua yang ada cuma kecewa. Sulit kayaknya mengharapkan masyarakat bisa tersenyum, ramah, saling tolong menolong sebagaimana pernah kita rasakan beberapa waktu silam, seperti sama sulitnya pemerintah mengembalikan harga sembako murah, BBM mudah, cari pekerjaan gampang, sekolah dan biaya kesehatan terjangkau . Presiden memang pernah ganti sampai empat kali, kabinetnya sudah sudah berkali-kali dibentuk bahkan dirombak, wakil rakyatnya sudah dua kali dipilih oleh rakyat dalam pemilu, pejabat negaranya sudah sering gonta-ganti bahkan yg sudah berhenti naik lagi. Gubernur, wali kota dan bupatinya sudah banyak wajah baru. Tapi sayangnya nasib rakyat Indonesia semakin hari semakin jauh dari perubahan yang semakin baik yang pernah dijanjikan oleh setiap calom pemimpin pada saat kampanye. Rakyat bahkan merasakan perubahan yang semakin hari semakin membuat napas mereka sesak, wajah mereka semakin murung, air mata doa tidak pernah berhenti, mungkin ini yang dimaksud calon pemimpin sebagai perubahan gerutu hati rakyat merasa tertipu. Obat gundah gulana adalah berbincang bersama teman-teman dekat, bersama tetangga, bersama pasangan yang dicintai. Dari perbincangan serius menyikapi berita media banyaknya pejabat yang jadi tersangka sampai perbincangan yang tidak pernah ada tema dan agendanya, tapi semua yang berbincang setuju dan kalimat persetujuan itu divisualisasi dengan senyum dan canda tawa. Senyum mengembang tawa terbahak membuat orang lupa masalah-masalah yang telah dihadapi. Sesaat tapi cukup berarti sebagai obat ketegangan hidup. Senyum kata yang tanpa makna, tapi kalau diselidik lebih dalam apa yang membuat seseorang tersenyum maka akan banyak makna yang keluar. Senyuman adalah visualisasi diri seorang tentang kondisi bathinnya dan sebuah pernyataan yang paling jujur yang disampaikan manusia tanpa harus ditambahahi kata sejujurnya. Web ini sengaja menggunakan icon kata senyum dalam simbolisasi isinya. Dengan sebuah maksud bahwa apa yang terjadi di luar sana dan di dalam diri kita sebaiknya disikapi dengan senyuman dan senyuman adalah wujud konkrit kelapangan dada kita. Kita ingin mengkritik dengan senyuman, menyuarakan kata hati dengan senyuman, melihat fenomena keberhasilan dan kegagalan dengan senyuman, dan menyongsong harapan kita dengan senyuman. Tanggapi caci makian, umpatan, hujatan dan segala yang buruk dengan senyuman, bukankah orang bijak mengatakan bahwa apa yang kita lakukan, kita katakan dan kita ekspresikan adalah cermin kejujuran tentang diri seseorang. Cacian para pelawak terhadap temannya sesama pelawak di atas panggung sering kali membuat kita tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak. Lebih asik lagi kalau kita menyikapi semua kejadian yang ada di diri dan lingkungan kita sebagaimana kita menonton pelawak. Bukankah banyak kejadian yang bisa membuat kita tersenyum, wakil rakyat yang seharusnya terhormat jadi tidak terhormat, aparat yang seharusnya menjaga bui jadi masuk bui dan banyak kisah-kisah yang tidak seharusnya yang membuat kita tersenyum. Maka kita akan selalu tersenyum dan tertawa setiap saat melihat semua kejadian. Web ini dibuat sebagai tempat ngobrol ngalor ngidul tanpa tema, santai tapi serius. Dan biasanya dari hal-hal kecil ini muncul ide-ide besar, biarkan semua pikiran mengalir apa adanya. Kata kuncinya cuma satu apa yang ada di web ini hanya ingin membuat setiap yang membaca tersenyum dan sedikit menghilangkan dan mengalihkan apa yang sedang dihadapi. Kita ingin semua yang membaca bisa menghadapi apapun dengan tersenyum. |
Prolog

